3 Kebiasaan yang Sering Dilakukan Trader Pemimpi

Traders Family Artikel Comments

Share this Post

3-kebiasaan-trader-pemimpi

Setiap trader pasti punya khayalan saat memulai trading. Ada yang berharap trading bisa dijadikan income tambahan saat lahan bisnis utamanya sedang lesu. Ada juga yang menjadikan trading sebagai cara untuk berinvestasi.

Namun ada juga yang memiliki khayalan setinggi langit, yaitu: Ingin cepat kaya dari trading forex. Faktanya, 80% trader yang berkhayal seperti ini selalu berakhir dengan margin call.

Ada 3 kebiasaan yang selalu berulang dengan stereotip seperti ini. Banyak yang tak sadar bahwa kebiasaan – kebiasaan ini adalah sebuah kesalahan.

1. Tidak mau rugi

Coba ingat-ingat lagi, seberapa sering anda menahan floating loss hingga puluhan sampai ratusan dollar dengan dasar pemikiran; “siapa tau harganya balik lagi”? Namun saat harga benar-benar balik arah, posisi pun buru-buru ditutup karena dasar pemikiran yang sama; “takut nanti harganya balik lagi”, padahal baru mengumpulkan 10 pips!

Hal ini berulang kali dilakukan karena kebanyakan trader hanya punya target profit, namun tak punya batasan rugi, alias tak pasang stop loss.

Tetapkan berapa toleransi loss per-trade anda atau dalam kurun waktu tertentu.

Mari kita umpamakan toleransi loss dalam sekali trading di angka 2 persen dari total modal. Dengan menetapkan toleransi loss di angka 2 persen, maka anda punya kesempatan setidaknya sampai 50 kali trading.

Ibaratkan stop loss bagai peluru yang anda tembakkan setiap satu kali trading. Pada awalnya anda pasti akan kehilangan banyak peluru, hal ini wajar karena anda masih dalam tahap belajar. Namun seiring bertambahnya pengalaman, anda akan lebih sering mengenai sasaran dibandingkan meleset, alias mendapatkan target profit.

Bandingkan jika toleransi loss anda ada di angka 10 persen, atau 50 persen! Anda akan keburu kehabisan amunisi sebelum menjadi mahir dan mengenai target dengan tepat.

2. Terlalu sering trading

“Kalau saya trading 5 kali sehari dengan target profit $100 per-trade, saya bisa dapat $500 perhari, sebulan saya bisa dapat lebih dari $1000!”

Ini kebiasaan salah yang kedua.

Dengan semakin sering Anda trading, bukan berarti keuntungan yang didapat jadi semakin berlipat. Justru yang akan terjadi malah sebaliknya, risiko anda jadi berlipat-lipat

Trader itu diibaratkan seorang fotografer yang ingin mengabadikan momen sunrise. Ia harus menunggu waktu yang tepat hingga matahari perlahan keluar dari ufuk timur. Namun, jika ternyata cuaca tiba-tiba hujan, maka mau tak mau ia harus menunggu lain waktu hingga mendapatkan momen sunrise yang sempurna.

“More is not always more in market forex”

Menunggu momen yang kemungkinan polanya berulang, jauh lebih baik dibandingkan dengan sering trading tanpa metode hanya untuk mengejar profit.

Untuk mendapatkan momen tersebut, trader harus mempunyai metode yang bisa di-backtest paling tidak selama 5 tahun. Dengan data tersebut kita bisa tahu kapan momen bagus tersebut datang kembali, tanpa harus membuang waktu untuk memantau market setiap hari.

3. Tak realistis

Trader pemimpi biasanya mempunyai modal pas-pasan dan berharap memperoleh profit setinggi-tingginya. Punya target profit 50 persen perbulan, tapi tak siap dengan risiko loss yang sama besarnya.

Dalam bisnis atau investasi selalu ada prinsip “high risk, high return”. Itu artinya, potensi profit selalu sejajar dengan potensi loss yang mungkin anda terima. Tapi di bisnis forex kita bisa tentukan sendiri batasan risiko sesuai dengan karakter kita.

Bila kita adalah tipe trader konservatif dengan target hanya 5 persen per bulan saja, maka dalam 1 tahun paling tidak kita bisa menghasilkan 50 persen. Angka tersebut cukup realistis bahkan untuk mengantisipasi saat-saat dimana target profit perbulan gagal terpenuhi.

Forex is a serious business

Forex adalah sebuah bisnis yang tidak pernah usang sehingga setiap langkahnya harus dicermati betul-betul. Misalnya dengan cara membatasi drawdown (toleransi risiko portfolio) 30 persen dan target profit 50 persen per tahun, maka forex bukan lagi bisnis high risk – high return, melainkan bisnis low risk – high return.


Dapatkan update artikel terbaru dari kami ke email Anda,
setiap minggunya dengan mengisi form di bawah ini: